Ulasan buku SEPEKAN DI BUMI KHATULISTIWA

Nama  : Ika fitriani
NIM     : 11901240
Kelas  :.1/D Pendidikan Agama Islam
ULASAN BUKU "Sepekan di Bumi Khatulistiwa" oleh Abdussatar Ali

Tokoh Cerita :   1. Ahmad
                           2. Pak Gunawan ( Ayah Ahmad )
                           3. Bu Gunawan ( ibu Ahmad )
                           4. Riri dan Ilham ( Adik Ahmad)
                           5. Pak Nardi ( adik Pak Gunawan)
                           6. Bu Nardi ( istri pak Nardi )

1. ORIENTASI

    Buku " Sepekan di Bumi Khatulistiwa ini ditulis oleh Abdussatar Ali yang lahir di Telok Pakedai, Pontianak, Kalimantan Barat pada tanggal 30 April 1940. Buku ini diluncurkan pada tahun 2000. Buku ini bercerita tentang seorang anak yang bernama Ahmad yang berlibur ke kota Khatulistiwa. Buku ini berisi 92 halaman.

2. TAFSIRAN

    Buku ini menceritakan tentang seorang anak yang bernama Ahmad mendapatkan nilai yang bagus dan Ayahnya berjanji jika Ahmad mendapatkan nilai yang bagus Ahmad akan diberi hadiah. Hadiah yang Ahmad inginkan adalah berlibur ke rumah paman Nardi di Pontianak. Ayah, ibu, Rini dan Ilham  pun menyetujui hadiah yang diinginkan Ahmad.

     Setelah sholat subuh Ahmad, Riri, dan Ilham telah berpakaian rapi. Pagi itu mereka akan berangkat dari Bandung ke Jakarta menggunakan bis, sesampainya di Jakarta Ahmad dan keluarga langsung ke pelabuhan Tanjung Priok karena dari Jakarta-Pontianak mereka menaiki kapal Cisadane. Tak terasa mereka pun sampai di pelabuhan Sen Hie Pontianak pada pukul 22.00 WIB tiba-tiba Pak Gunawan meliat Pak Nardi melambaikan tangannya. Barang-barangnya segera dimasukkan kedalam mobil Pak Nardi. Sesampainya dirumah pak Nardi semua tamu dipersilahkan membersihkan diri dan makan malam. Setelah itu mereka dipersilahkan istirahat.

- Melihat kolam ikan
       Keesokan harinya Ahmad, Rini, dan Ilham pergi ke kolam ikan milik paman Nardi. Mereka merubung paman Nardi yang sedang menebar pelet. Beberapa ikan menyambar pelet yang disebar didalam kolam ikan. Setelah itu mereka pergi ke kebun karena paman Nardi mengajak mereka memanen buah rambutan dan durian.

- Berkeliling kota Pontianak
      Hari kedua mereka pergi mengelilingi kota Pontianak. Paman Nardi mengajak mereka pergi ke tempat wisata di Pontianak seperti di Tugu Khatulistiwa, Museum Kalimantan Barat, Keraton Kadariah dan Rumah adat Kalimantan Barat. Setelah puas mengelilingi kota Pontianak mereka bersiap-siap pulang karena hari sudah mulai gelap.

- Menelusuri Sungai Kapuas
        Hari Ketiga Pak Nardi berencana mengajak mereka menusuri Sungai Kapuas sambil menghirup udara segar dipagi hari. Sebelum pergi mereka sarapan terlebih dahulu. Sesangkan bu Nardi dan bu Gunawan sibuk menyiapkan bekal untuk mereka. Mereka akan naik long boat yang berkekuatan 40 ekor kuda. Setelah semua siap mereka semua berangkat ke pelabuhan Seng Hie. Setelah sampai di pelabuhan mereka semuanya langsung naik dan duduk, juragan motor pun menarik dan menghidupkan mesin kapal itu. Pemandangan ditepi sungai kapuas pun sangat unik. Rumah-rumah panggung berjejer ditepi sungai, ada masjid Jami' Sulthan. Ahmad pun tak mau ketinggalan momen tersebut. Setelah puas menelusuri Sungai Kapuas mereka berhenti di Olak-olak Sukalanting. Sesampainya disana motor speed berputar arah karena hari sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Setelah sehari menelusuri sungai kapuas mereka pulang kerumah paman Nardi dan langsung beristirahat.

- Di kebun mangga
       Hari keempat paman Nardi mengajak mereka berkunjung ke kebun mangga milik pak  Tajuddin. Letak kebun itu agak jauh dari rumah kira-kira 15 km kearah barat kota Pontianak. Pak Tajuddin adalah temannya paman Nardi ia sering bertandang dan bersilaturahmi sambil menikmati manisnya buah mangga. Tidak hanya memanen dan memakan buah mangga pak Tajuddin juga mengajarkan kepada mereka cara menanam mangga secara okulasi, stek dan juga cangkok. Ahmad, Rini, dan Ilham pun sudah mengerti yang diajarkan pak Tajuddin, pak Nardi dan pak Gunawan pun bangkit dari duduk dan bersiap pamit karena hari sudah mulai magrib.

- Berwisata ke hutan lindung
         Hari kelima mereka berwisata ke hutan lindung, karena liburannya tinggal beberapa hari lagi Ahmad, Rini, dan Ilham pun menghabiskan sisa waktu liburan yang tinggal beberapa hari itu dengan berwisata ke hutan. Sesampainya dihutan, Ahmad, Rini, dan ,Ilham pun menyaksikan hutan lebta yang selama ini belum pernah mereka lihat secara langsung. Tak terasa waktu pun sudah mulai sore mereka pulang kerumah Paman Nardi. Perjalanan itu pun terasa panjang dan melelahkan tapi terasa bermanfaat untuk memperluas wawasan.

- Kembali ke Bandung
Hasil gambar untuk foto diatas pesawat

         Waktu terus berlalu liburan pun tinggal 2 hari lagi. Ahmad, Rini, dan Ilham harus kembali rajin belajar setelah sekitar satu minggu liburan. Sebebnarnya Ahmad dan Rini masih ingin menikmati liburannya di Bumi Khatulistiwa karena masih banyak tempat temlat yang belum ia kunjungi. Namun kunjungan seminggu di Bumi Khatulistiwa sudah cukup banyak menambah pengetahuan mereka. Kini saatnya mereka pulang ke Bandung menggunakan pesawat terbang, dan mereka pun sampai ke Bandung dengan selamat.

3.  EVALUASI

      Cerita "Sepekan di Bumi Khatulistiwa" disajikan sebagai buku bacaan nonfiksi bagi para pelajar untuk menambah wawasan dan sebagai pelengkap berbagai mata pelajaran yang mereka terima di sekolah.

      Isi buku ini menitik beratkan pada masalah peningkatan mutu kehidupan masa depan dan masalah lingkungan hidup. Buku ini, diharapkan dapat mengembangkan sikap dan perilaku murid untuk lebih mencintai lingkungan dan memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya.

  Bahan-bahan yang disajikan dan dihimpun dalam buku ini sebagian besar bersumber dari pengamatan penulis dan informasi dari narasumber dan dilengkapi dari beberapa buku acuan.

   Buku ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran semua pihak dapat diterima oleh si penulis.

4. RANGKUMAN

     Ketika mendapat nilai bagus pada saat kenaikan kelas , Ahmad dan saudara-saudaranya diajak berlibur ke Pontianak. Bagi Ahmad, Rini, dan Ilham liburan kali ini sangat menyenangkan karena mereka mendapat pengalaman baru. Mereka naik kapal menyebrang ke pulau Kalimantan.

      Di Pontianak, mereka mengunjungi berbagai objek wisata, seperti menyusuri Sungai Kapuas yang lebar, melihat pemeliharaan ikan di keramba, menyaksikan Tugu Khatulistiwa, dan lain-lain. Tugu Khatulistiwa adalah kebanggaan orang Pontianak karena Tugu Khatulistiwa merupakan tanda bahwa kota itu terletak tepat di garis Khatulistiwa.
    

    




        


Komentar